Pengalaman Ku….

tahun 2013 itu tahun yang paling mendebarkan dalam hidupku.. karena tahun ini aku akan berhadapan dengan UN dan ujian masuk perguruan tinggi.. tantangan paling besar adalah UN dengan sistem baru, yaitu barcode. setiap orang akan mendapatkan soal yang berbeda dari yang lain.. setiap murid kelas XI stress menghadapi UN dengan sistem baru. tetapi tidak untuk aku. aku terus berjuang demi sukses menghadapi UN.. aku bimel di salah satu tepat bimbel terkenal di kotaku. setiap hari aku bimbel di sekolah dan di tempat bimel. cape… sekali, tetapi aku tidak mau jika aku gagal dalam UN. setiap hari aku berdoa, termasuk orang tuaku yang terus mendoakan anaknya sukses. saat UN pun tiba, aku duduk di paling depan dekat dengan pengawas. aku grogi sekali, adrenalku terpacu, tak hentinya aku berdoa agar hatiku lebiih tenang. hari demi hari aku lalui, aku pun sudah mulai terbiasa menghadapi UN. UN pun selesai, namun semuanya belum berakhir.. tantangan terbesar pun sudah di depan mata, yaitu masuk perguruan tinggi negeri. ini adalah penentu masa depan, penentu aku akan jadi apa. cita-cita aku ingin menjadi dokter, tapi ini mendapat celaan dari guru maupun teman sekitar, mereka meremehkan bahwa aku tidak akan masuk kedokteran. tapi aku yakin Allah akan selalu memberi yang terbaik untuk hidupku. tapi sayangnya, aku belum mempunyai kesempatan untuk menjadi dokter. aku tidak lulus SNMPTN.. aku sangat terpukul, tapi aku menyadari aku tidak boleh terus terpuruk. aku bangkit, aku berjuang untuk ikut SBMPTN. setiap hari aku harus bimbel, setiap malam juga harus belajar. saya yakin akan ada jalan untukku. dan keajaiban Allah pun ada. aku lulus SBMPTN walaupun buan di pilihan pertama. tapi aku yakin, ini adalah jalan terbaik untuk meraih kesuksesanku. 

Referensi

  1. Nurfiana, A.”Advertisy Quotient”. 05 Desember 2013. http://eprints.uny.ac.id/9771/2/BAB%202%20-%2007104244092.pdf.
  2. Sudarman. “Adversity Quotient:Kajian Kemungkinan Pengintegrasiannya  dalam PembelajaranMatematika”. 13 Desember 2013. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/AKSIOMA/article/view/1279/928.

Memperbaiki Tingkat Adversity Quotient

Eiiitz…. Jangan khawatir… Jika Ada termasuk orang yang tipe quitters atau AQ Anda kurang, karena ada teori yang bisa memperbaiki tingkat AQ seseorang.

Menurut Stoltz (2000) LEAD sangat efektif untuk membantu orang menciptakan perbaikan-perbaikan permanen dalam AQ serta cara merespon kesulitan. LEAD adalah L = listen (dengarkan respon anda terhadap kesulitan), E = explore (jajaki asal usul dan pengakuan anda atas akibatnya), A = analyze (analisis bukti-buktinya), dan D = Do (lakukan sesuatu/ambil tindakan).

AQ bisa ditumbuhkan sejak kecil. Orang yang bertanggung jawab atas tingkat AQ seseorang salah satunya adalah orang tua. Orang tualah yang mendidik anaknya sejak kecil. Jika orang tua berhasil mendidik anaknya dengan benar, tentunya tidak akan ada orang yang gampang frustasi dan selalu meminta bantuan kepada orang lain.

Selain itu, AQ juga dapat dilatih. Sering seringlah melakuka LEAD apabila menghadapi masalah. Jangan putus asa dulu sebelum mendapat jalan keluar. Jika sering berlatih, maka AQ akan semakin meningkat, dan membuka jalan menuju kesuksesan.

Image

Untuk menuju kesuksesan tentunya tidak hanya AQ yang menonjol, tetapi keseimbangan antara AQ, IQ, SQ dan EQ. Jika semua komponen kecerdasan seimbang, jangan heran jika keuksesan akan menghampiri anda.

Tipe Adversity Qoutient

Tipe Adversity Quotient

Menurut Stoltz (2000) ada tiga tipe AQ, yaitu: tipe quitter (AQ rendah), tipe camper (AQ sedang), dan tipe climber (AQ tinggi).

  1. Quitter

Image

Quitters, mereka yang berhenti adalah seseorang yang memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur dan berhenti apabila menghadapi kesulitan. Quitters (mereka yang berhenti), orang-orang jenis ini berhenti di tengah proses pendakian, gampang putus asa, menyerah (Ginanjar Ary Agustian, 2001: 271). Orang dengan tipe ini cukup puas dengan pemenuhan kebutuhan dasar atau fisiologis saja dan cenderung pasif, memilih untuk keluar menghindari perjalanan, selanjutnya mundur dan berhenti. Para quitters menolak menerima tawaran keberhasilan yang disertai dengan tantangan dan rintangan. Orang yang seperti ini akan banyak kehilangan kesempatan berharga dalam kehidupan. Dalam hirarki Maslow tipe ini berada pada pemenuhan kebutuhan fisiologis yang letaknya paling dasar dalam bentuk piramida.

Orang tipe ini yang berusaha menjauh dari permasalahan. Ciri-ciri anak tipe quitter, misalnya:

1)      Usahanya sangat minim.

2)      Mundur saat melihat kesulitan.

3)      Tidak berani menghadapi permasalahan.

4)      Sering berlaku sinis, murung, dan mati rasa.

5)      Mudan marah dan mudah frustasi

6)      Sering menyalahkan orang lain.

7)      Membenci orang-orang yang terus berusaha untuk maju.

8)      Biasanya pecandu alkohol dan narkoba.

9)      Mengabaikan potensi diri.

10)  Menghindari kewajiban.

11)  Gampang putus asa dan menyerah.

12)  Cenderung puas dengan terpenuhinya kebutuhan dasar atau fisiologis saja dan cenderung pasif.

13)  Menolak tawaran keberhasilan yang disertai dengan tantangan dan rintangan.

Orang Quitters Mereka mencari pelarian untuk menenangkan hati dan pikiran, mereka melarikan diri dari (pendakian) usaha untuk maju, yang berarti juga mengabaikan potensi yang mereka miliki dalam Kehidupan ini

2. Camper

Image

Campers atau satis-ficer (dari kata satisfied = puas dan suffice =mencukupi) . Golongan ini puas dengan mencukupkan diri dan tidak mau mengembangkan diri. Tipe ini merupakan golongan yang sedikit lebih banyak, yaitu mengusahkan terpenuhinya kebutuhan keamanan dan rasa aman pada skala hirarki Maslow. Kelompok ini juga tidak tinggi kapasitasnya untuk perubahan karena terdorong oleh ketakutan dan hanya mencari keamanan dan kenyamanan.

Camper adalah orang yang tidak mau mengambil risiko yang terlalu besar dan merasa puas dengan kondisi atau keadaan yang telah dicapainya saat ini. Ia pun kerap mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang bakal didapat. Orang tipe ini cepat puas atau selalu merasa cukup berada di posisi tengah. Orang camper merasa cukup senang dengan ilusinya sendiri tentang apa yang suda ada, dan mengorbankan kemungkinan untuk melihat atau mengalami apa yang masih mungkin terjadi. Mereka tidak memaksimalkan usahanya walaupun peluang dan kesempatannya ada.

3. Climber

Image

Tipe climber adalah orang yang mempunyai tujuan atau target. Untuk mencapai tujuan itu, ia mampu mengusahakan dengan ulet dan gigih. Tak hanya itu, ia juga memiliki keberanian dan disiplin yang tinggi. Ibarat orang bertekad mendaki gunung sampai puncak, ia akan terus mencoba sampai yakin berada di puncak gunung. Tipe inilah yang tergolong memiliki AQ yang baik.

Climbers (pendaki) mereka yang selalu optimis, melihat peluang-peluang, melihat celah, melihat setitik harapan di balik keputusasaan, selalu bergairah untuk maju. Titik kecil yang dianggap sepele, bagi para Climbers mampu dijadikannya sebagai cahaya pencerah kesuksesan (Ginanjar Ary Agustian, 2001: 17).

Climbers merupakan kelompok orang yang selalu berupaya mencapai puncak kebutuhan aktualisasi diri pada skala hirarki Maslow. Climbers adalah tipe manusia yang berjuang seumur hidup, tidak perduli sebesar apapun kesulitan yang datang. Climbers tidak dikendalikan oleh lingkungan, tetapi dengan berbagai kreatifitasnya tipe ini berusaha mengendalikan lingkungannya. Climbers akan selalu memikirkan berbagai alternatif permasalahan dan menganggap kesulitan dan rintangan yang ada justru menjadi peluang untuk lebih maju, berkembang, dan mempelajari lebih banyak lagi tentang kesulitan hidup. Tipe ini akan selalu siap menghadapi berbagai rintangan dan menyukai tantangan yang diakibatkan oleh adanya perubahan-perubahan.

Dalam hirarki Maslow dapat dijelaskan hubungan quitters,
campers, dan climbers pada gambar 2, sebagai berikut :

Untitled5
Gambar 2. Hirarki Kebutuhan Maslow (Stoltz, 2000: 23)

Hirarki maslow mengambarkan tiga tipe Advertisy Quotient dimana pemenuhan kebutuhan dalam piramida Maslow menunjukkan ciri-ciri tipe Advertisy Quotient. Piramida Maslow diibaratkan sebagai gunung, sedangkan tipe Advertisy Quotient diibaratkan sebagai pendaki gunung. Seorang Quitters hanya akan mendaki sampai kaki gunung saja artinya hanya memenuhi kebutuhan fisiologis saja, tipe Campers hanya akan mendaki sampai merasa puas dimana kebutuhan keamanan dan fisiologisnya terpenuhi, dan tipe Climbers akan mendaki sampai puncak dimana semua kebutuhan terpenuhi.

Tingkatan Kesulitan

Tiga Tingkatan Kesulitan

Stoltz (Diana Nidau, 2008: 22) mengklasifikasikan tantangan atau kesulitan menjadi tiga dan menggambarkan ketiga kesulitan tersebut dalam

suatu piramida sebagai berikut :

Image 

Gambar 1. Tiga Tingkatan Kesulitan (Sumber : Diana Nidau, 2008)

Bagian puncak piramida menggambarkan social adversity (kesulitan di masyarakat). Kesulitan ini meliputi ketidakjelasan masa depan, kecemasan tentang keamanan, ekonomi, serta hal-hal lain yang dihadapi seseorang ketika berada dan berinteraksi dalam sebuah masyarakat (Mulyadi & Mufita, 2006: 39).

Kesulitan kedua yaitu kesulitan yang berkaitan dengan workplace adversity (kesulitan di tempat kerja) meliputi keamanan di tempat kerja, pekerjaan, jaminan penghidupan yang layak dan ketidakjelasan mengenai apa yang terjadi.

Kesulitan ketiga individual adversity (kesulitan individu) yaitu individu menanggung beban akumulatif dari ketiga tingkat, namun individu memulai perubahan dan pengendalian.

Semua kesulitan ini dapat diatasi dengan tingkat AQ yang tinggi. Apabila semua dapat teratasi, maka seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang sukses.

Faktor Pembentuk Adversity Quotient

Faktor Pembentuk Adversity Quotient

Faktor-faktor pembentuk adversity quotient menurut Stoltz (2000:92) adalah sebagai berikut:

  1. Daya saing

Seligman (Stoltz, 2000: 93) berpendapat bahwa adversity quotient yang rendah dikarenakan tidak adanya daya saing ketika menghadapi kesulitan, sehingga kehilangan kemampuan untuk menciptakan peluang dalam kesulitan yang dihadapi.

  1. Produktivitas

Penelitian yang dilakukan di sejumlah perusahaan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kinerja karyawan dengan respon yang diberikan terhadap kesulitan. Artinya respon konstruktif yang diberikan seseorang terhadap kesulitan akan membantu meningkatkan kinerja lebih baik, dan sebaliknya respon yang destruktif mempunyai kinerja yang rendah.

  1. Motivasi

Penelitian yang dilakukan oleh Stoltz (2000: 94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai motivasi yang kuat mampu menciptakan peluang dalam kesulitan, artinya seseorang dengan motivasi yang kuat akan berupaya menyelesaikan kesulitan dengan menggunakan segenap kemampuan.

  1. Mengambil resiko

Penelitian yang dilakukan oleh Satterfield dan Seligman (Stoltz, 2000:94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai adversity quotient tinggi lebih berani mengambil resiko dari tindakan yang dilakukan. Hal itu dikarenakan seseorang dengan adversity quotient tinggi merespon kesulitan secara lebih konstruktif.

  1. Perbaikan

Seseorang dengan adversity quotient yang tinggi senantiasa berupaya mengatasi kesulitan dengan langkah konkrit, yaitu dengan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek agar kesulitan tersebut tidak menjangkau bidang-bidang yang lain.

  1. Ketekunan

Seligman menemukan bahwa seseorang yang merespon kesulitan dengan baik akan senantiasa bertahan. Dia akan selalu berusaha mengatasi kesulitannya dengan tekun dan selalu berusahaa mencari jalan keluarnya.

  1. Belajar

Menurut Carol Dweck (Stoltz, 2000: 95) membuktikan bahwa anak-anak yang merespon secara optimis akan banyak belajar dan lebih berprestasi dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola pesimistis. Orang dengan AQ tinggi akan senantiasa belajar termasuk belajar dari kesalahannya.

Komponen Adversity Quotient

Komponen Adversity Qoutient

Empat komponen utama AQ adalah CO2RE, yaitu C = Control, O2 = Origin dan Ownership, R = Reach, dan E = Endurance.

  1. C = Control (kendali)

Image

Control mempertanyakan berapa banyak (kuat) kendali/control seseorang terhadap suatu peristiwa yang menimbulkan kesulitan. Semakin tinggi skor pada dimensi C, semakin besar kemungkinannya seseorang memiliki tingkat kendali yang kuat atas masalah yang dihadapi, artinya semakin siap menghadapi tantangan. Sebaliknya semakin rendah skor pada dimensi C semakin besar kemungkinannya seseorang merasa bahwa masalah yang dihadapi diluar kendali, artinya tidak mampu untuk mengatasi kesulitan dan menghadapi tantangan. Menurut Stolz (2000) orang yang dimensi C nya rendah cenderung berkata: ini diluar jangkauan saya, tidak ada yang saya bisa lakukan, saya tidak mungkin bisa dan lain sebagainya. Sedangkan yang memiliki dimensi C yang tinggi menurut Stolz (2000) selalu berkata: wow ini sulit, tetapi saya pernah menghadapi yang lebih sulit dari itu, pasti ada yang saya bisa lakukan, selalu ada jalan, siapa berani akan menang, dan saya harus mencari cara lain

2. O2 = Origin dan Ownership (asal usul dan pengakuan)

Image

Mempertanyakan siapa atau apa yang menjadi asal usul kesulitan, sampai sejauh mana seseorang mengakui adanya kesulitan tersebut dan sejauh mana seorang individu mengnggap dirinya ebagai penyebab asal usul kesulitan. Komponen origin dan ownership sering disebut O2. Semakin tinggi skor O2 semakin besar kemungkinannya seseorang memandang bahwa kesuksesan itu selalu ada dan penyebab utama suatu kesulitan berasal dari luar. Sebaliknya semakin rendah skor O2 semakin besar kemungkinannya seseorang menganggap bahwa penyebab kesulitan itu adalah dirinya sendiri. Jika mereka sempat meraih kesuksesan, mereka menganggap bahwa kesuksesan itu hanya keberuntungan saja yang diakibatkan oleh orang atau faktor dari luar. Menurut Stoltz (2000) mereka yang skor asal usulnya (origin) rendah cenederung bepikir: (a) ini semua kesalahan saya; (b) saya memang bodoh sekali; (c) seharusnya saya lebih tahu; (d) apa yang saya pikirkan tadi, ya?, (e) saya malah jadi tidak mengerti, (f) saya sudah mengacaukan semuanya, dan (g) saya memang orang gagal. Sedangkan menurut Stolz (2000) orang yang memiliki respon asal usul lebih tinggi akan berpikir sebagai berikut: (a) waktunya tidak tepat; (b) seluruh industri sedang menderita; (c) sekarang ini setiap orang mengalami masa-masa yang sulit, dia hanya sedang tidak gembia hatinya; (d) beberapa anggota tim tidak memberikan kontribusinya; (e) anak saya sakit dan saya harus begadang sepanjang malam untuk merawatnya; (f) tak seorangpun yang dapat meramalkan datangnya yang satu ini; (g) ada sejumlah faktor yang berperan, (h) seluruh anggota tim mengecewakan harapan-harapan kami, (i) setelah mempertimbang-kan segala sesuatunya saya tahu ada acara untuk menyelesaikan pekerjaan saya dengan lebih baik dan saya akan menerapkannya bila lain waktu saya berada dalam situasi seperti ini lagi.

3. R = Reach (jangkauan)

Image

Mempertanyakan sampai sejauh manakah kesulitan akan menjangkau aspek-aspek lain dari kehidupan seseorang. Dengan AQ yang rendah akan membuat kesulitan menyebar ke segi-segi lain dari kehidupan seseorang. Semakin rendah skor komponen reach semakin besar kemungkinannya seseorang menganggap peristiwa-peristiwa buruk dialami sebagai bencana, dan membiarkannya meluas. Menganggap suatu kesulitan sebagai bencana yang akan menyebar dengan cepat sekali, bisa sangat berbahaya karena akan menimbulkan kerusakan bila dibiarkan tak terkendali. Sebaliknya semakin tinggi skor komponen R seseorang, semakin besar kemungkinannya seseorang membatasi jangkauan masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi, sehingga kesulitan tersebut tidak menyebar menjadi kesulitan-kesulitan lain.

4. E = Endurance (daya tahan)

Image

Mempertanyakan dua hal yang saling berkaitan yaitu: berapa lamakah kesulitan akan berlangsung dan berapa lamakah penyebab kesulitan itu akan berlangsung. Semakin rendah skor E seseorang, semakin besar kemungkinan seseorang itu menganggap kesulitan dan penyebabnya akan berlangsung lama, kalau bukan selama-lamanya. Semakin tinggi skor E seseorang semakin besar kemungkinannya seseorang akan memandang kesuksesan sebagai suatu yang berlangsung lama, atau bahkan permanen. Demikian juga seseorang akan menganggap kesulitan itu dan penyebab-penyebabnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara, cepat berlalu, dan kecil kemungkinannya terjadi lagi. Hal ini akan meningkatkan energi, optimisme, dan kemungkinan seseorang untuk bertindak.

Adversity Quotient

Adversity Quotient

 Image

Adversity Quotient (AQ) adalah kecerdasan mengatasi kesulitan (Stoltz, 2000). Beberapa istilah lain yang sering digunakan, misalnya AQ adalah kecerdasan ketahanmalangan (Candisa, 2006), AQ adalah potensi kegigihan (Subiyanto, 2006), AQ adalah kehandalan mental (Laksomono, 2006), dan AQ adalah kecerdasan ketangguhan (Efendi, 2005).

Menurut Stoltz (2000) AQ mempunyai tiga bentuk, yaitu:

  1. AQ adalah suatu kerangka konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan.
  2. AQ adalah suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang untuk menghadapi kesulitan.
  3. AQ adalah serangkaian peralatan yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan.

Lebih lanjut Stoltz (2000) mengatakan bahwa AQ dapat menunjukkan: kinerja, motivasi, pemberdayaan, kreativitas, kebahagiaan, vitalitas dan kegembiraan, kesehatan emosional, kesehatan jasmanai, ketekunan, produktivitas, pengetahuan, energi, pengharapan, daya tahan, tingkah laku, umur panjang, dan respon terhadap perubahan. Suksesnya pekerjaan dan hidup seseorang banyak ditentukan oleh AQ. Seseorang yang memiliki AQ lebih tinggi, tidak dengan mudah menyalahkan pihak lain atas persoalan yang dihadapinya melainkan bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah. Mereka tidak mudah mengeluh dan tidak mudah berputus asa walau kondisi seburuk apapun. Justru sebaliknya, dengan segala keterbatasannya, mereka mampu berpikir, bertindak dan menyiasati diri untuk maju terus. Sebaliknya, rendahnya AQ seseorang adalah tumpulnya daya tahan hidup. Mengeluh sepanjang hari tatkala menghadapi persoalan dan sulit untuk melihat hikmah di balik semua permasalahan yang dihadapinya.

Stoltz (2000) mengumpamakan hidup ini sebagai sebuah pendakian puncak gunung. Seseorang yang mencapai puncak gunung berarti ia telah berhasil mengatasi kesulitan dan berhasil dengan sukses menjalani kehidupan.

 

Muqaddimah Adversity Quotient

IQ (intelligence quotient) sudah lama dianggap sebagai penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang (Suparno, 2004). Pendapat itu berubah setelah Goleman (2000) mengungkapkan bahwa keberhasilan seseorang sangat tergantung pada emotional quotient (EQ). Namun kenyataannya, sejumlah orang yang memiliki IQ tinggi dan segala aspek-aspek EQ yang baik tidak berhasil dalam kehidupannya. Ketika mengingat kembali teman-teman yang dahulu pernah juara kelas ketika belajar di sekolah dasar atau sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas, mereka itu hanya dibilang memiliki IQ yang tinggi, dan itu berarti bukan suatu ukuran bahwa mereka akan berhasil dalam menempuh kehidupannya. Seseorang yang memiliki IQ tinggi, dinilai pintar matematika, logika, dan Bahasa Indonesia. Tetapi, di mana mereka sekarang? Dan bagaimana kehidupan mereka? Ada yang sukses dalam menempuh hidupnya, tetapi tidak sedikit yang justru gagal dalam menempuh kehidupannya, dengan kata lain gagal mengatasi permasalahan yang menghadang dalam kehidupannya.

Menurut Stoltz (2000) sepertinya bukan IQ ataupun EQ yang menentukan suksesnya seseorang, tetapi keduanya berperan dalam menentukan kesuksesan. Lebih lanjut Stoltz (2000) menyatakan bahwa ada satu faktor lagi yang memiliki pengaruh luar biasa terhadap keberhasilan seseorang, yaitu kecerdasan mengatasi masalah atau adversity quotient (AQ).

ImageAQ seseorang dapat ditingkatkan, artinya jika seorang memiliki AQ rendah dapat ditingkatkan menjadi seseorang yang memiliki AQ tinggi. Seseorang yang memiliki AQ tinggi tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Mereka adalah pemikir yang selalu memikirkan berbagai kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan ada sesuatu yang menghalangi cita-citanya. Seseorang yang memiliki AQ tinggi tidak pernah putus harapan dalam menempuh kehidupan, termasuk dalam menyelesiakan tugas yang diberikan kepadanya.

Personality Ayu Lita Atmadiyanti

Paradigma Psikologi Kepribadian Cognitive dan Behavioristic

Time Management

it's about managing time with a right way.

Personality Selly Desiani

Emosional Intellegence. Control your emotions or your emotions will control you!!

Personality Annida Nur Shalihah

Kesiapan Menghadapi Tantangan (Adversity Quotient)

personalityselviarahmayoza

Paradigma psikologi kepribadian Psikoanalisis

Personality Halimah

paradigma psikologi kepribadian trait

PersonalityMuchibbaturrachmah

TATA NILAI PERAWAT CARE, EMPATI, ALTRUISM

personality Nuri Novelia

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

Personality Ria Nuriana

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

personality Wenny Yelnita

Paradigma Psikologi Kepribadian Trait

Personality Rosa Nugrahaeni

This blog will tell you how to maintain your Emotional Intellegence

Personality Meilinda Ulfah

PARADIGMA PSIKOLOGI KEPRIBADIAN PSYCHOANALITIC

Personality Gita Puspitasari

Social Intelligence - "We need people in our lives with whom we can be as open as possible. To have real conversations with people may seem like such a simple, obvious suggestions, but it involves courage and risk" - Thomas Moore

Personality Nina Putri Asih

Paradigma Psikologi Kepribadian, Trait

personalityeskamadya

Positive Thinking

Personality Christi Mervie

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

Personality Rara Rianita

Positive Thinking (Berpikir Positif)

Personality Noor Fathara

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Personality Dewi Sartika

Paradigma Psikologi Kepribadian Trait

personalitysarilestari

The greatest WordPress.com site in all the land!

personalitynabila

Kecerdasan Sosial (Social Intelligence)

Personality Mutia Anggraini

Tata Nilai Perawat Care, Empathy, Altruism

Personality Ulfa Fauziyyah

Paradigma Psikologi Kepribadian Trait

Personality Diah Ayu

Adversity Quotion - Kesiapan Menghadapi Tantangan

Personalitymamayhumaeroh

Tata Nilai Perawat Care, Empaty, Altruism

Personality Fika

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

personalityregadwiputri

selamat datang di wordpress saya :)

Personality Gilang Guntara Eka Putra

Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence)

personality hemas yulinda rachmawati

Social Intellegence ( kepribadian sosial)

personalityandreanreynaldi

Spiritual Intelligence

Personality Putri Puspa Delima

Paradigma Psikologi Kepribadian Psychoanalitic

Personality Rio Nurgiri

Adversity Quotient (Kesiapan Menghadapi Tantangan)

PERSONALITY DESTI RAHMAWATI

PARADIGMA PSIKOLOGI KEPRIBADIAN TRAIT

personalityfajar

Kesiapan Menghadapi Tantangan (Adversity Quotion)

Personality Listia

Tata nilai perawat Care, Empaty, Altruism

Personality Oselia

Hadapi Tantangan dengan Senyuman

Syara Noor Liza

time management

personality latifa

berpikir positif

personalityaisitirahmah

Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan tetapi hebat dalam tindakan :)

Personality Ranitya HY

TIME MANAGEMENT

personalityputriwulantikasari

Don't cry cause you're so right !!!

Personality Sinta Nurjanah

Spiritual Intelligence (Kecerdasan Spiritual)

Personality Siti Nur Alfiyah

Paradigma Psikologi Kepribadian Psikoanalitik

personalityAnnekeDewina

ADVERSITY QUOTION